Suprijanto@ Kesatuan Bangsa
Berbagi pengalaman untuk memupuk persatuan dan kesatuan bangsa

Memelihara Semangat Persatuan

  • Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sedang menghadapi suatu cobaan yang sangat berat, yaitu krisis multidimensi diseluruh aspek kehidupan nasional, kerusuhan yang mengarah kepada disintergrasi bangsa, bencana alam dan berbagai peristiwa lainnya yang tak putus-putus beberapa tahun belakangan ini, yang terbaru berupa “teror bom buku” . Dengan peristiwa-peristiwa tersebut menyebabkan masyarakat seperti kehabisan akal, sebelum peristiwa berhasil dituntaskan, muncul kejadian-kejadian lain yang tak kalah hebat, baik karena ulah manusia maupun fenomena alam. Gambaran peristiwa yang susul menyusul secara cepat dan beragam berlangsung seperti mimpi, membuat memori otak masyarakat tidak mampu mencatat, apa yang mereka lihat, dengar dan alami. Apalagi…. mengingat peristiwa sejarah yang terjadi puluhan tahun silam.   Situasi dan kondisi tersebut yang dapat mempengaruhi pola pikir, pola sikap dan pola tindak masyarakat, sehingga akan mempengaruhi kondisi mental spiritual bangsa Indonesia.
  • Menghadapi kondisi tersebut, marilah kita bersama-sama membangkitkan kembali semangat perjuangan bangsa kita, yang tidak mengenal lelah sehingga kita dapat hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti saat ini.  Mari kita menengok kebelakang untuk mencermati sejarah perjuangan bangsa Indonesia.  Pada waktu merebut dan mempertahankan kemerdekaan, bangsa Indonesia berjuang dengan semangat kebangsaan yang tinggi. Yang dilandasi oleh iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta sikap ikhlas berkorban.
  • Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki sifat kemajemukan baik dilihat dari segi wilayah maupun penduduknya. Wilayahnya yang sangat luas terbentang dari Sabang hingga Merauke dan Mianggas hingga Rote yang meliputi lautan luas dan terdiri dari pulau besar dan kecil dengan jumlah penduduk diatas 240 juta jiwa, yang terdiri lebih dari 350 suku dan hampir semua agama besar yang ada di dunia terdapat di Indonesia. Demikian juga aliran kepercayaan serta memiliki adat istiadat dan budaya yang beraneka ragam. Kondisi keragaman yang sedemikian ini disatu sisi merupakan unsur strategis yang sangat menguntungkan, namun disisi lain mengandung potensi kerawanan dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan nasionalnya.
  • Lahirnya bangsa Indonesia tidak sekaligus mulai pada waktu tertentu, melainkan melalui proses yang sangat panjang selama berabad-abad. Dari sejarah yang ada, kerajaan Sriwijaya pada abad 7 yang pernah dibangun bangsa Indonesia dianggap awal pemersatu bangsa waktu itu, meskipun oleh para ahli dinilai baru mempersatukan secara sosial ekonomi, tetapi para pendiri republik seperti Bung Karno memandang persatuan secara politikpun telah terwujud dengan menyebut Sriwijaya sebagai nation state (negara kebangsaan) yang pertama.
  • Kalahnya kerajaan Sriwijaya, kejayaan diambil alih oleh kerajaan Majapahit. Dalam periode ini cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa secara historis telah tercatat dalam Sumpah Maha Patih Gajah Mada pada tahun 1331 yang diucapkan di paseban Istana Ratu Tribuana yang berbunyi “Tan Amukti Palapa” yang berarti Sang Patih tidak akan beristirahat sebelum wilayah Nusantara dipersatukan. Upaya mempersatukan bangsa dari aneka ragam etnis, agama dan ras sudah mulai sejak jaman Majapahit, juga dengan munculnya motto “Bhinneka Tunggal Ika” pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.     Cita-cita ini merupakan satu konsep integrasi wilayah nusantara bagi bangsa Indonesia. Pada waktu itu belum dikenal nama Indonesia, yang dipakai adalah Nusantara. Sementara orang Eropa menyebut tanah air kita “The Indian Islands” sedangkan penjajah Belanda menamakan “Naderlandsch India”.
  • Nama Indonesia diperkenalkan oleh seorang ahli antropologi Inggris bernama J.R.Logan yang pada abad pertengahan 19 melakukan penelitian terhadap penduduk dan kebudayaan yang mendiami wilayah kepulauan antara Benua Asia dan Australia serta antara lautan Hindia dan lautan Pasifik dan dari penelitian tersebut muncul nama “Indonesia” sebagai nama untuk wilayah kepulauan yang terletak diantara daratan Asia dan Australia.
  • Sejak awal abad 16 bangsa Indonesia mengalami masa suram dimana bangsa Eropa (Inggris, Belanda, Portugis dan Spanyol) lewat keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologinya mereka mulai melirik nusantara. Selama awal abad 16 tersebut bangsa Indonesia telah menunjukkan perlawanan yang gagah perkasa menentang penjajahan. Kemudian pada abad berikutnya selama 3,5 abad bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda dengan sistim memecah belah (devide et impera) dan sejak itu bangsa Indonesia mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Penderitaan dan kesengsaraan inilah yang kemudian melahirkan kebersamaan. Kebersamaan dan solidaritas yang menjadi landasan utama tegaknya bangunan bangsa Indonesia.
  • Dalam konteks ini sangat tepat apa yang dikemukakan oleh seorang guru besar Perancis E.Renan yang mengatakan : Bangsa tidak merupakan kesatuan atas dasar kesamaan ras, kesamaan bahasa, kesamaan agama, kesamaan kepentingan atau geografi, batas-batas wilayah yang bersifat alamiah,… namun Bangsa adalah suatu kesatuan solidaritas yang besar, tercipta oleh rasa pengorbanan yang telah dibuat dimasa lampau tetapi ia melanjutkan dirinya pada masa kini melalui suatu kenyataan yang jelas yaitu kesempatan, keinginan, yang dikemukakan dengan nyata untuk terus hidup bersama.
  • Akibat penderitaan dan kesengsaraan yang dialami masyarakat pada waktu itu, maka pada awal abad 20, lahirlah gerakan-gerakan yang mulai menunjukkan kesadaran berbangsa yang diawali dengan berdirinya Budi Utomo (1908), Serikat Islam (1912), Perkumpulan Politik Katholik Jawi (1925), Nahdhatul Ulama (1926) dan lain-lainnya. Organisasi-organisasi tersebut pada awalnya masih bersifat primordialisme.
  • Seiring berjalannya waktu maka para pendiri organisasi menyadari bahwa dengan sifat primordialisme dirasakan tidak mampu untuk melepaskan diri dari penderitaan dan kesengsaraan akibat penjajahan. Maka pada tahun 1928 bersatulah organisasi-organisasi kepemudaan untuk membuat kesepakatan dan mengambil sikap tegas mengenai kesatuan bangsa melalui Sumpah Pemuda, yaitu tekad untuk hidup sebagai satu bangsa dengan menomor duakan ikatan-ikatan primordialisme yang dimiliki.
  • Sebelum Indonesia merdeka, para pendiri negara telah memikirkan dan merenungkan bagaimana menjamin dan memelihara keutuhan bangsa untuk tetap bersatu selama-lamanya mengingat unsur bangsa ini sangat majemuk. Akhirnya disepakati bersama dengan merumuskan Pancasila sebagai pandangan hidup/falsafah bangsa menjadi dasar negara yang salah satu silanya adalah Persatuan Indonesia.
  • Lebih lanjut telah diletakkan pula landasan yang kukuh bagi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa kedalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 yang dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 ditetapkan fungsi sekaligus tujuan negara Indonesia yaitu untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Rumusan ini menunjukkan pokok-pokok pikiran persatuan.
  2. Bentuk negara ditetapkan sebagai Negara Kesatuan Pasal 1 ayat (1).
  3. Selanjutnya pasal-pasal dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 secara eksplisit dan implisit menjanjikan terjaminnya persatuan dan kesatuan bangsa.
  • Dalam lembaran sejarah bangsa Indonesia merdeka; persatuan dan kesatuan bangsa sering diuji dengan berbagai tantangan, antara lain terjadinya konflik-konflik ideologi maupun politik dari berbagai kekuatan yang tumbuh dalam masyarakat.
  • Disamping itu timbul pula gerakan dan pemberontakan dibeberapa daerah yang mengarah pada sparatisme yang puncaknya ditandai dengan terjadinya pemberontakan tahun 1965.
  • Demikian juga kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini yang menjurus kepada pertentangan SARA yang telah menimbulkan korban jiwa maupun harta yang tidak sedikit dan mengakibatkan terganggunya sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa. Terakhir yang perlu dicermati adalah, adanya kegiatan unjukrasa yang mengarah pada pemisahan dari negara kesatuan yang terjadi di ujung timur Indonesia.
  • Berbagai hambatan dan tantangan yang dihadapi saat ini masih tetap merintangi perjalanan bangsa Indonesia dalam mewujudkan integrasi nasionalnya, apalagi dalam era globalisasi dan keterbukaan dimana batas-batas negara semakin kabur serta adanya semangat reformasi yang berlebihan dapat menimbulkan kerawanan dalam upaya pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa.  Kalau tidak hati-hati dalam menanganinya, tidak mustahil terjadi disintegrasi/perpecahan bangsa. Oleh sebab itu menjaga keutuhan dan kelestarian bangsa melalui semangat/jiwa persatuan dan kesatuan merupakan kebutuhan mutlak serta sekaligus merupakan tantangan yang tidak ringan.

Dari berbagai sumber

Belum Ada Tanggapan to “Memelihara Semangat Persatuan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: